Orang Kristen Tidak Perlu IMB Rumah Ibadah

Banyak orang tidak mengerti dengan baik tentang kekristenan yang sesungguhnya. Bahkan pemimpin gereja pun banyak yang tidak mengerti tentang kekristenan dengan tepat. Sudah pasti umat agama lain tidak akan bisa mengerti tentang kekristenan tanpa mendapatkan masukan dari sumber yang tepat.

Sejak Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, maka tubuh manusia akan mati, dan jiwa serta roh manusia tidak bisa kembali kepada Allah yang maha kudus atau masuk ke Sorga yang maha kudus. Menurut Yesus Kristus roh manusia akan pergi ke tempat yang disiapkan bagi iblis (Mat.25:41), tentu karena manusia percaya dan mengikuti iblis. Manusia harus menyelesaikan dosanya jika ingin menghampiri Allah atau masuk Sorga.

Karena Allah selain maha kudus, Ia juga maha adil, maka tidak ada cara untuk menyelesaikan dosa manusia selain penghukuman (Rom.3:2). Semua pemerintah di dunia memakai cara yang sama untuk menyelesaikan dosa yaitu penghukuman (penjara bahkan ditembak mati). Menurut Hukum Taurat, “ tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan (Ibr. 9:22 ITB). Atas dasar ini maka Allah menjanjikan Juruselamat yang akan dihukumkan menggantikan manusia.

Sebelum kedatangan Sang Juruselamat yang akan dihukumkan menggantikan manusia yang berdosa, maka Allah memerintahkan upacara simbolik untuk menggambarkan Sang Juruselamat serta penjatuhan hukuman mati. Seekor domba ditaruh di atas mezbah dan disembelih, untuk menggambarkan Sang Juruselamat yang akan datang dan dihukum mati menggantikan manusia.

Selanjutnya seluruh kitab Taurat dan kitab para Nabi menulis tentang Sang Juruselamat dan berisikan rangkaian ibadah simbolik yang diarahkan kepada Sang Juruselamat. Bahkan Allah itu kudus tak terhampiri oleh sebab itu diperlukan seorang perantara yaitu imam, dan penyembelihan domba untuk menggambarkan penghukuman. Makanan tertentu dinyatakan haram untuk menyimbolkan dosa dan tidak boleh dimakan. Penyakit tertentu dinyatakan najis sehingga perlu dijauhi. Penyembahan terarah kepada simbol (tabut dengan bait Allah), dan penyembahan disimbolkan dengan postur tubuh yang sujud. Menghormati Allah disimbolkan dengan menghormati hari Sabat, dan tidak menyebut nama Allah secara sembarangan. Semua itu dapat disimpulkan sebagai ibadah simbolik, ritualistik, lahiriah.

Cara masuk Sorga sejak Adam hingga kedatangan Sang Juruselamat ialah bertobat dan percaya kepada Sang Juruselamat yang dijanjikan. Bertobat tentu adalah mengaku salah dan menyesali dosa. Percaya kepada Sang Juruselamat yang akan datang untuk menggantikannya dihukumkan. Sebagai manifestasi iman ialah melakukan ibadah simbolik, ritualistik dan lahiriah yang diperintahkan dalam kitab Taurat dan kitab para Nabi.

Kemudian Sang Juruselamat yang disimbolkan tiba, dan mempersembahkan dirinya sebagai korban dosa, dipakukan di kayu salib. Ia telah menanggung dosa seisi dunia (Yoh.1:29), yaitu dosa yang diawali oleh Adam dan Hawa. Menurut Rom.5:18-19, dosa yang disebabkan oleh Adam dan Hawa telah diselesaikan oleh Tuhan Yesus. Oleh sebab itu bayi dan orang yang lahir tidak sadar diri (cacat mental) sepanjang masa pasti masuk Sorga. Sedangkan yang tidak meninggal saat bayi, melainkan tumbuh hingga akil balik dan berbuat dosa atas kesadaran dirinya, ia menjadi orang berdosa bukan lagi karena Adam melainkan karena perbuatan dirinya. Orang demikian harus mendengarkan Injil, bertobat dan percaya bahwa Yesus telah menggantikannya dihukumkan. Jadi, tidak ada satu manusia pun yang bisa masuk Sorga tanpa melalui Sang Juruselamat. Para bayi dan yang cacat mental diselamatkan karena pengorbanan Yesus, sedangkan yang tumbuh dewasa karena bertobat dan beriman kepada Yesus.

Sejak kedatangan Yesus yang didahului oleh Yohanes Pembaptis, maka seluruh ibadah simbolik, ritualistik dan lahiriah dinyatakan selesai tugasnya (Luk.16:16). Kata Tuhan Yesus kepada perempuan Samaria bahwa ibadah simbolik ritualistik lahiriah telah selesai dan ibadah hakekat rohaniah dalam kebenaran telah tiba (Yoh.4:23). Artinya sekarang Allah tidak lagi meminta manusia menyembahNya dalam bentuk simbol, dan secara ritualistik, serta dengan sikap badan. Sekarang tiba saatnya Allah mau disembah langsung hakekat dengan hati dan dalam kebenaran. Penyembahan atau ibadah yang benar tidak lagi dilakukan dengan tubuh melainkan dengan hati, sehingga tidak lagi dibatasi sikap tubuh, waktu dan tempat.

Ibadah orang Kristen yang benar sesungguhnya bersifat langsung dengan hati, sehingga tidak perlu dengan bersujud badan, melainkan dengan bersujud hati. Dan karena ibadah kekristenan yang dengan hati maka dilakukan dalam segala waktu. Karena dilakukan dengan hati dan dalam segala waktu maka tentu juga di segala tempat. Jadi, ibadah kekristenan itu sifatnya rohaniah dan dengan akal budi, sehingga penekanannya adalah masuk akal, yaitu dalam kebenaran. Orang Kristen yang alkitabiah, dan yang memiliki pengertian yang benar tidak beribadah pada hari Minggu atau hari lain, melainkan beribadah setiap saat. Ibadah kekristenan sesungguhnya adalah sikap hatinya kepada Tuhan sepanjang waktu dan di semua tempat. Hari Minggu pagi sesungguhnya adalah acara pertemuan jemaat, bukan acara ibadah.

Perhatikan kitab Ibrani 10:25, di dalam bahasa aslinya tidak ada kata “ibadah” itu adalah tambahan LAI ketika penerjemahan. Dan LAI menerjemahkan kata εὐσεβεια (1Ti 4:8 SCR) dengan kata ibadah, yang di King James Version diterjemahkan dengan Godliness (kesalehan). Kelihatannya LAI terpengaruh konsep ibadah dari agama lain (islam?). Karena bukan rahasia bahwa baik agama Yahudi, Islam, bahkan hampir semua agama di dunia terjebak dalam ibadah simbolik, lahiriah, ritualistik yang sudah dinyatakan kadaluarsa oleh Tuhan Yesus (Mat.5:20, Yoh.4:23). Ibadah yang benar adalah yang dilakukan dengan hati, secara rohani, dan dalam kebenaran. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” (Mat 22:37 ITB)

Bagi orang Kristen yang mengerti kebenaran, yang mengerti bahwa kekristenan diperintahkan untuk menyembah kepada Tuhan langsung dengan hatinya, di segala waktu dan di segala tempat, maka tidak ada konsep tentang rumah ibadah. Dan itu pula bahwa orang Kristen alkitabiah tidak perlu bersujud badan, dan tidak ada ketentuan satu hari harus sekian kali bersujud dengan lokasi tertentu.

Sedangkan mengenai acara pertemuan berjemaat, tentu itu bisa dilakukan di mana saja. Di negara demokrasi yang pemimpinnya masih berakal sehat tidak ada yang melarang rakyatnya berkumpul secara damai. Kalau orang boleh berkumpul untuk acara pernikahan, untuk rapat kerja, untuk pesta ulang tahun, tentu tidak ada alasan untuk melarang orang Kristen berkumpul mempelajari Alkitab atau bernyanyi.

Jadi, benar bukan, judul artikel ini bahwa orang Kristen tidak membutuhkan IMB khusus rumah ibadah? Karena sifat ibadah kekristenan yang sesungguhnya ialah dengan hati dan bersifat rohani. Ibadah orang Kristen terjadi sepanjang waktu, tidak dibatasi oleh tempat, artinya di mana saja, kapan saja. Tetapi karena para pemimpin gereja tidak mengerti, bahkan masih banyak yang menyebut acara berjemaat itu sebagai ibadah, maka kesalahpahaman pihak pemerintah dan umat agama lain terhadap orang Kristen, menjadi-jadi. Dan kiranya melalui artikel ini baik pemimpin gereja, orang Kristen pada umumnya dan juga umat agama lain beserta pemerintah menjadi faham, sehingga tidak menuntut umat Kristen meminta IMB khusus rumah ibadah.***

 

 

2 thoughts on “Orang Kristen Tidak Perlu IMB Rumah Ibadah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *